Picture 1
Photo 1 : students coming out from the school
Photo 2 : a students studying in class
Comparison Degree
Students in school building are more comfortable than student who study in class
Picture 2
Photo 1 : a mentor who is teaches a woman to study in a workshop
Photo 2 : a man who is studying indoors by him self
Comparison Degree
A man who is studying in the room by himself while a woman is studying in a workshop by her mentor
Picture 3
Photo 1 : a group of people who are carrying out a ceremony to welcome the victory celebration
Photo 2 : a group of people who were watching at the place of the car race
Comparison Degree
A group of people carried out a more disciplined and neat ceremony while the second picture of a group of people watching the race was irregular
Picture 4
Photo 1 : a student who is playing rugby
Photo 2 : a student who is practicing martial arts
Comparison Degree
A student playing rugby on outdoor while the second picture a student who practices martial arts indoors
Tugas Soft Skill Gunadarma
Rabu, 24 April 2019
Kamis, 04 April 2019
Holiday Story
My Experience in Penang
We flew from KL to Penang which took around about an hour. The airport is at the southern end of the island and we had to get to our accommodation in Georgetown so we picked up our luggage and waited at the bus stop which is outside the terminal, across the first road, turn right, up a ramp and go right to the end. To get to Georgetown (the KOMTAR centre interchange) you need to catch a 401 or 401E but do not be surprised if the bus does not stop. We found that it depends whether the bus is outward bound or inward bound so just make sure you flag them all down and if it is heading in the right direction it will stop and let you on. Make sure you have some single ringits and change as the bus will not give change.
If you walk to the end of the street and turn right, walk down a couple of blocks, there is a bus stop where you can catch the free city bus. It will go around to Weld Quay where it will start it’s circuit again….a great way to get a feel for the city area. All the buses are air conditioned so if you are finding it a bit hot out and about, just jump on a bus for a bit of respite.
There is plenty to see in Penang and the food is great. We were a bit wary about eating at the street stalls at first but if you keep to the busy ones you shouldn’t have a problem. Loved the Indian rotis and curry and they are so cheap. We fed 3 of us with drinks for 22MYR!
On our last afternoon we decided to really spoil ourselves. On our visit to Batu Feringgi we had look at the Park Royal Hotel. It was very nice and had a lovely lawned area with sun lounges and inviting pool. We noticed that you could use the facilities and pay to be a day visitor. It worked out that for 40MYR each (weekdays) you could use the pool and a beach towel, use the internet and get 20MYR each credit towards food and drinks (from 11am to 10pm). We thought it would be nice to relax around the pool and go for a dip plus have something to eat. Well that was the plan but with sightseeing in the morning and a long walk in the afternoon, we didn’t make it to the Park Royal until 4pm so didn’t avail ourselves of the day membership. At 4.30pm it was Happy Hour so we decided to have a couple of beers there to end our Penang adventure
We flew from KL to Penang which took around about an hour. The airport is at the southern end of the island and we had to get to our accommodation in Georgetown so we picked up our luggage and waited at the bus stop which is outside the terminal, across the first road, turn right, up a ramp and go right to the end. To get to Georgetown (the KOMTAR centre interchange) you need to catch a 401 or 401E but do not be surprised if the bus does not stop. We found that it depends whether the bus is outward bound or inward bound so just make sure you flag them all down and if it is heading in the right direction it will stop and let you on. Make sure you have some single ringits and change as the bus will not give change.
If you walk to the end of the street and turn right, walk down a couple of blocks, there is a bus stop where you can catch the free city bus. It will go around to Weld Quay where it will start it’s circuit again….a great way to get a feel for the city area. All the buses are air conditioned so if you are finding it a bit hot out and about, just jump on a bus for a bit of respite.
There is plenty to see in Penang and the food is great. We were a bit wary about eating at the street stalls at first but if you keep to the busy ones you shouldn’t have a problem. Loved the Indian rotis and curry and they are so cheap. We fed 3 of us with drinks for 22MYR!
On our last afternoon we decided to really spoil ourselves. On our visit to Batu Feringgi we had look at the Park Royal Hotel. It was very nice and had a lovely lawned area with sun lounges and inviting pool. We noticed that you could use the facilities and pay to be a day visitor. It worked out that for 40MYR each (weekdays) you could use the pool and a beach towel, use the internet and get 20MYR each credit towards food and drinks (from 11am to 10pm). We thought it would be nice to relax around the pool and go for a dip plus have something to eat. Well that was the plan but with sightseeing in the morning and a long walk in the afternoon, we didn’t make it to the Park Royal until 4pm so didn’t avail ourselves of the day membership. At 4.30pm it was Happy Hour so we decided to have a couple of beers there to end our Penang adventure
Minggu, 02 Desember 2018
Ilmu Budaya Dasar : Hubungan antara manusia dan kebudayaan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, orang begitu sering
membicarakan soal budaya. Juga dalam kehidupan sehari-hari, orang tak mungkin
berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan. Setiap hari orang melihat,
mempergunakan dan kadang-kadang merusak kebudayaan.
Kebudayaan sebenarnya secara khusus dipelajari oleh
antropologi budaya. Akan tetapi walaupun demikian, seorang yang memperdalam
tentang sosiologi sehingga memusatkan perhatiannya terhadap masyarakat, tak
dapat menyampingkan kebudayaan dengan begitu saja karena dikehidupan nyata
keduanya tidak dapat dipisahkan dan selamanya merupakan dwi tunggal.
Masyarakat adalah yang hidup bersama dan yang menghasilkan
kebudayaan. Dengan demikian, tak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan
dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan
pendukungnya. Walaupun secara teoritas dan untuk kepentingan analistis, kedua
persoalan tersebut dapat dibedakan dan dipelajari secara terpisah.
Dua orang antropolog terkemuka yaitu Melvile J.
Herskovit dan Bronislaw Malinowski, mengemukakan bahwa cultural determinism
berarti segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan adanya
kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu.
Kemudian Herskovits memandang kebudayaan sebagai suatu yang
super organic karena kebudayaan yang turun temurun dari generasi
kegenerasi tetap hidup terus, walaupun orang-orang yang menjadi anggota
masyarakat senantiasa silih berganti disebabkan kematian dan kelahiran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Kebudayaan dan Masyarakat
Kata “kebudayaan” berasal dari (bahasa sangsekerta)
buddhayah yang merupakan jamak kata “buddhi” yang berarti budi atau akal.
Kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal.
Adapun istilah culture yang merupakan istilah bahasa asing yang sama
artinya dengan kebudayaan berasal dari kata latin colore. Artinya mengolah atau
mengerjakan, yaitu mengolah tanah atau bertani. Dari asal arti tersebut, yaitu
celore kemudian colture, diartikan sebagai daya dan kegiatan manusia untuk
mengolah dan mengubah alam.
Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan
serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota
masyarakat. Dengan kata lain kebudayaan mencakup semuanya yang didapatkan atau
dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari
segala suatu yang dipelajari dari pola prilaku yang normative.
Ada suatu kesalahan umum yang terdapat dalam masyarakat yang
beranggapan bahwa ada masyarakat yang memiliki kebudayaan sedangkan yang lain
tidak. Secara sosiologis semua manusia dewasa yang normal pasti memiliki
kebudayaan. Kebudayaan bisa diartikan sebagai keseluruhan tingkah laku dan kepercayaan
yang dipelajari yang merupakan ciri anggota suatu masyarakat tertentu. Kata
kunci dari definisi diatas adalah dipelajari, yang membedakan antara kebudayaan
dengan tindak tanduk yang merupakan warisan biologis manusia.
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang hidup bersama
dalam suatu periode waktu tertentu, mendiami suatu daerah, dan akhirnya mulai
mengatur diri mereka sendiri menjadi suatu unit sosial yang berbeda dari
kelompok-kelompok lain. Anggota-angota masyarakat menganut suatu kebudayaan. Kebudayaan
dan masyarakat tidak mungkin hidup terpisah satu sama lain. Di dalam sekelompok
masyarakat akan terdapat suatu kebudayaan.
Definisi kebudayaan menurut para ahli:
· E.B
Taylor
Kebudayaan adalah komplikasi (Jalinan) dalam keseluruhan
yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keagamaan, hukum, adat
istiadat serta lain-lain kenyataan dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan
manusia sebagai anggota masyarakat.
· Leslie
White
Kebudayaan adalah suatu kumpulan gejala-gejala yang
terorganisasi yang terdiri dari tindakan-tindakan (pola perilaku), benda-benda,
ide-ide (kepercayaan dan pengetahuan), dan perasaan-perasaan yang semuanya itu
tergantung pada penggunaan simbol-simbol.
· Koentjoroningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya manusia,
yang dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan-keseluruhan dari hasil
budi dan karya itu.
· Selo
Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
Kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta
masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan
atau kebudayaan jasmaniah (Material Culture) yang diperlukan oleh manusia untuk
menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabadikan untuk
keperluan masyarakat.
Dalam pandangan sosiologi, kebudayaan memiliki arti yang
lebih luas dari pada itu. Kebudayaan meliputi semua hasil cipta dan karya
manusia baik yang material maupun non-material.
Kebudayaan material
Adalah hasil cipta, karsa, yang berwujud benda atau barang
misalnya, gedung-gedung, jalan, rumah, alat komunikasi dan sebagainya.
Kebudayaan non-material
Adalah hasil cipta, karsa yang berwujud kebiasaan-kebiasaan,
adat istiadat, kesusilaan, ilmu pengetahuan, keyakinan, agama, dan sebagainya.
B. Unsur-unsur Kebudayaan
kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdiri dari
unsur-unsur besar maupun unsur-unsur kecil yang merupakan bagian dari sesuatu
kebulatan yang bersifat dari kesatuan. Misalnya dalam kebudayaan Indonesia
dapat dijumpai unsur besar seperti umpamanya majelis permusyawaratan rakyat,
disamping adanya unsur-unsur kecil seperti, sisir, kancing, baju, peniti dan
lainya yang dijual dipinggir jalan. Berapa orang sarjana yang mencoba
merumuskan unsur-unsur pokok kebudayaan tadi. misalnya, Melville J. horskovits
mengajukan 4 unsur pokok kebudayaan, yaitu:
1. Alat-alat teknologi
2. Sistem ekonomi
3. Keluarga
4. Kekuasaan politik
Sedangkan Bronislaw Malinowski mengemukakan unsur-unsur
pokok kebudayaan sebagai berikut:
1. Sistem norma-norma
yang memungkinkan kerja sama antara anggota masyarakat di dalam upaya menguasai
alam sekelilingnya
2. Organisasi ekonomi
3. Alat-alat dan lembaga
atau petugas pendidikan
4. Organisasi kekuatan
Semua unsur tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam unsur-unsur
pokok atau besar kebudayaan yang biasa disebut dengan cultural universal. Unsur
tersebut memiliki sifat universal, yaitu dapat ditemui pada setiap kebudayaan.
Tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universal yaitu:
1. Peralatan dan
perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga,
senjata, alat-alat produksi, transpor dan sebagainya)
2. Mata pencaharian hidup
dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem
distribusi, dan sebagainya)
3. Sistem kemasyarakatan
(sistem kerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan)
4. Bahasa (lisan maupun
tertulis)
5. Kesenian (seni rupa,
seni suara,seni gerak dan sebagainya)
6. Sistem pengetahuan
7. Religi (sistem
kepercayaan)
C. Fungsi dan Hakikat
Kebudayaan Bagi Masyarakat
Kebudayaan memiliki fungsi yang besar bagi manusia dan
masyarakat. Masyarakat memiliki kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi dalam
menjalani kehidupannya. Kebutuhan-kebutuhan masyarakat tersebut sebagian besar
dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri.
Kemampuan manusia terbatas sehingga kemampuan kebudayaan
yang merupakan hasil ciptaannya juga terbatas di dalam memenuhi segala
kebutuhan. Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi atau kebudayaan
kebendaan yang mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi masyarakat terhadap
lingkungan dalamnya.
Teknologi pada hakikatnya meliputi paling sedikit tujuh
unsur, yaitu:
1. Alat-alat produktif
2. Senjata
3. Wadah
4. Makanan dan minuman
5. Pakaian dan perhiasan
6. Tempat berlindung dan
perumahan
7. Alat-alat transport
Kebudayaan mengatur supaya manusia dapat mengerti bagaimana
seharusnya bertindak, berbuat menentukan sikapnya kalau mereka berhubungan
dengan orang lain. Setiap orang bagaimanapun hidupnya, akan selalu menciptakan
kebiasaan bagi dirinya sendiri. Kebiasaan merupakan suatu perilaku pribadi,
yang berarti kebiasaan seseorang itu berbeda dari kebiasaan orang lain,
walaupun mereka hidup dalam satu rumah. Kebiasaan menunjuk pada suatu gejala
bahwa seseorang di dalam tindakan-tindakannya selalu ingin melakukan hal-hal
yang teratur bagi dirinya sendiri.
Khusus untuk mengatur hubungan antar manusia, kebudayaan
dinamakan pula struktur normatif atau menurut Ralph Linton, designs for lifing
(garis-garis atau petunjuk dalam hidup). Yang dapat diartikan bahwa kebudayaan
adalah suatu garis-garis pokok tentang perilaku atau blueprint for behavior,
yang menetapkan peraturan-peraturan mengenai apa yang seharusnya dilakukan, apa
yang seharusnya dilarang dan sebagainya.
D. Sifat Hakikat Kebudayaan
Setiap masyarakat mempunyai kebudayaan yang beragam dan
berbeda antara satu dengan yang lainnya, setiap kebudayaan mempunya sifat
hakikat yang berlaku umum bagi semua kebudayaan di manapun juga. Sifat
kebudayaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kebudayaan terwujud
dan tersalurkan lewat perilaku manusia
2. Kebudayaan telah ada
terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu tidak akan mati
dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
3. Kebudayaan diperlukan
oleh manusia dan diwujudkan tingkah lakunya.
4. Kebudayaan mencakup
aturan aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang
diterima dan ditolak, tindalan-tindakan yang dilarang dan tindakan tindakan
yang diizinkan.
Sifat hakikat kebudayaan adalah ciri setiap kebudayaan,
tetapi seseorang hendak memahami apa sifat hakikatnya yang esensial, terlebih
dahulu harus memecahkan pertentangan-pertentangan atau larangan-larangan yang
ada di dalamnya, yaitu sebagai berikut:
1. Di dalam pengalaman
manusia, kebudayaan itu bersifat universal. Akan tetapi, perwujudan kebudayaan
mempunya beberapa ciri khusus yang sesuai dengan situasi, lokasi maupun
kondisinya. Sebagamaina diuraikan masyarakat dan kebudayaan itu merupakan suatu
dwitunggal yang tak dapat dipisahkan. Hal itu mengakibatkan setiap masyarakat
manusia mempunyai kebudayaan atau dengan perkataan lain, kebudayaan bersifat universal
atribut dari setiap masyarakat di dunia ini. Perbedaan kedua kebudayaan
tersebut terletak pada perbedaan latar belakangnya. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa sifat universal dari kebudayaan memungkinkan berwujudnya
kebudayaan yang berbeda-beda, tergantung pada pengalaman pendukungnya, yaitu
masyarakat.
Contoh : Apabila seseorang dari masyarakat dengan
kebudayaan yang berbeda dan tertentu berhubungan dengan masyarakat yang menjadi
anggota masyarakat yang berlainan, dia akan sadar bahwa adat istiadat kedua
masyarakat tersebut tidak sama.
2. Kebudayaan bersifat
stabil di samping juga bersifat dinamis dan setiap kebudayaan mengalami
perubahan-perubahan yang kontinu atau berlanjut. Setiap kebudayaan pasti
mengalami perubahan atau perkembangan-perkembangan. Hanya kebudayaan yang mati
yang bersifat statis. Sering kali suatu perubahan yang terjadi dalam masyarakat
tidak terasa oleh anggota-anggota masyarakat. Dalam mempelajari kebudayaan
harus selalu diperhatikan hubungan antara unsur yang stabil dengan unsur-unsur
yang mengalami perubahan. Sudah tentu pasti terdapat perbedaan derajat pada
unsur-unsur yang berubah tersebut, yang harus disesuaikan dengan kebudayaan
bersangkutan. Unsur-unsur kebendaan seperti teknologi bersifat terbuka untuk
suatu proses perubahan, ketimbang unsur rohaniah seperti unsur keluarga, kode
moral, sistem kepercayaan dan lain sebagainya.
Contoh : Bentuk Pulpen, model sepatu, menu makanan,
buku tulis, serta segala macem benda yang dijumpai sehari-hari dalam kehidupan
masyarakat. Walaupun yang ditinjau adalah masyarakat yang seolah-olah tampaknya
statis seperti misalnya kehidupan pada masyarakat-masyarakat asli di pedalaman
Indonesia, pasti ada perubahan.
3. Kebudayaan mengisi
serta menentukan jalannya kehidupan manusia, walaupun hal itu jarang disadari
oleh manusia sendiri. Gejala tersebut secara singkat dapat diterangkan dengan
penjelasan bahwa walaupun kebudayaan atribut manusia. Jarang bagi seseorang
untuk mengetahui kebudayaan mereka sampai pada unsur-unsur yang
sekecil-kecilnya, padahal kebudayaan tersebut menentukan arah serta perjalanan
hidupnya.
Contoh: Betapa sulitnya bagi seorang individu untuk
menguasai seluruh unsur kebudayaan yang didukung oleh masyarakat sehingga
seolah-olah kebudayaan dapat dipelajari secara terpisah dari manusia yang
menjadi pendukungnya.
Di antara mahluk ciptaan Tuhan yang lain manusia merupakan
mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Manusia menciptakan
kebudayaan-kebudayaan yang berbeda-beda disetiap kalangannya, dan melestarikan
kebudayaan tersebut secara turun temurun. Manusia disebut sebagai mahluk Tuhan
yang paling sempurna karena manusia mempunya akal budi yang diberikan Tuhan
agar mampu membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar, juga mampu
untuk berkarya di dunia ini dan secara hakikatnya menjadi seorang
pemimpin. Contoh: Pemimpin keluarga, pemimpin negara, dan lain
sebagainya.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sangsakerta yakni
berarti “budi atau akal”. Jadi segala sesuatu yang berhubungan budi pekerti dan
akal pikiran manusia. Budaya adalah suatu yang berkembang dan dimiliki bersama
oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Segala
sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan kebudayaan yang terdapat
dalam masyarakat itu sendiri. Ketika seseorang berusaha berada dengan
orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaan tersebut
untuk dipelajari.
Contoh: Masyarakat Sumatera Barat, khususnya daerah
Padang. Masyarakat menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa minang dan dalam
keseharian mereka menjunjung tinggi adat dan kebiasaan untuk bermusyawarah
dalam mengambil keputusasn.
Kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi
manusia. Hasil karya manusia menimbulkan teknologi yang mempunyai kegunaan utama
dalam melindungi manusia terhadap lingkungan alamnya. Sehingga kebudayaan
memiliki peran sebagai:
1. Suatu hubungan pedoman
antar manusia atau kelompoknya.
2. Wadah untuk
menyalurkan perasaan-perasaan dan kemampuan-kemampuan lain.
3. Sebagai pembimbing
kehidupan dan penghidupan manusia.
4. Pembeda manusia dan
binatang.
5. Petunjuk-petunjuk
tentang bagaimana manusia harus bertindak dan berperilaku dalam pergaulan.
6. Pengatur agar manusia
dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat dan menentukan sikapnya
jika berhubungan dengan orang lain.
E. Kepribadian dan Kebudayaan
Pengertian masyarakat menunjuk pada sejumlah manusia,
sedangkan pengertian kebudayaan menunjuk pada pola-pola perilaku yang khas dari
masyarakat tersebut. Masyarakat dan kebudayaan sebenarnya merupakan perwujudan
atau abstraksi perilaku manusia. Kepribadian mewujudkan perilaku manusia.
Perilaku manusia dapat dibedakan dengan kepribadian karena merupakan latar
belakang perilaku yang ada dalam diri seorang individu. Kepribadian bukanlah
terletak pada jawaban atau tanggapan manusia terhadap suatu keadaan,
akan tetapi justru pada kesiapan dalam memberikan jawaban dan tanggapan.
Jawaban atau tanggapan merupakan perilaku seseorang. Sebagai
misal, apabila seseorang harus menyelesaikan perselisihan yang terjadi antara
dua orang. Keinginannya untuk menyelesaikan suatu perselisihannya, keinginan
untuk tidak mengacuhkan ataupun keingnan mempertajam perselisihan tersebut,
merupakan kepribadiannya, sedangakan tindakannya dalam mewujudakn keinginan
tersebut merupakan perilakunya.
Mungkin kepribdian dapat diberi batasan sebagaimana
dikatakan Theodore M. Newcomb, yaitu bahwa kepribadian merupakan organisasi
sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.
Kepribadian menunjuk pada organisasi sikap-sikap seseorang untuk berbuat,
mengetahui berfikir, dan merasakan secara khususnya apabila dia berhubungan
dengan orang lain atau menangapi suatu keadan. Karena kepribadian merupakan
abstraksi individu dan kelakuannya sebagaimana halnya dengan masyarakat dan
kebudayaan, ketiga aspek tersebut mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi
satu dengan yang lain.
Sebenarnya kepribadian merupakan organisasi faktor-faktor
biologis, psiklogis, dan sosiologis yang mandasai perilaku individu.
Kepribadian mencakup kebiasaan-kebiasaan, sikap, dan sifat lain yang khas
dimiliki seseorang yang berkembang apabila orang tadi barhubungan dengan orang
lain. Seseorang sosilogi terutama menaruh perhatiannya pada perujudan perilaku
individu yang nyata pada waktu individu tersebut berhubungan dangan
individu-indiviu lainya.
Wujud perilaku tersebut dinamakan juga peranan, yaitu
perilaku yang berkisar pada pola-pola interaksi manusia. Dasar-dasar pokok
perilaku seseorang merupakan faktor-faktor biologis dan psikologis. Walaupun
seseorang sosiologi hanya menaruh perhatian khusus pada kepribadian yang
terwujud dalam interaksi, faktor-faktor biologis dan psiklogis juga penting
baginya karena faktor-faktor sosiologi dalam perkembangannya berkisar pada
faktor-faktor biologis dan psikologis.
Faktor-faktor biologis dapat mempengaruhi kepribadian secara
langsung. Misalnya, seseorang yang mempunyai badan yang lemah (secara fisik)
dapat mepunyai sifat rendah diri yang besar. Bebearapa faktor biologis yang
penting adalah misalnya sistem saraf, watak seksual, proses pendewasaan, dan
juga kelainan-kelainan biologis. Faktor-faktor psikologis yang dapat
mempengaruhi kepribadian adalah unsure temperamen, kemampuan belajar, perasaan,
keterampilan, keinginan, dan lain sebagainya.
Mungkin bagian tadi dapat digambarkan dengan istilah
kebudayaan khusus atau sub-culture. Untuk membatasi diri pada hal-hal yang
penting, uraian di bawah akan dikaitkan pada tipe-tipe kebudayaan khusus yang
nyata mempengaruhi bentuk kepribadian, yakni sebagai berikut.
1. Kebudayaan-kebudayaan
khusus atas dasar faktor kedaerahan
Disini dijumpai kepribadian yang saling berbeda antar
individu atas masyarakat tertentu karena mereka tinggal di daerah yang tidak
sama dan dengan kebudayaan yang tidak sama pula.
Contoh: seperti perbedaan melamar mempelai dari daerah
minang berbeda dengan daerah lampung.
2. Cara hidup di kota dan
di desa yang berbeda
Perbedaan tampak pada anak kota yang lebih terbuka dalam
menerima perubahan sosial dan lebih menonjolkan diri diantara teman-temanya,
sedangkan anak yang besar di desa lebih percaya pada diri sendiri dan memiliki
sikap menilai (sense of value), dan dalam berkehidupan orang kota lebih
individualis, sedangkan orang pedesaan lebih rukun dan saling berkerja sama.
3. Kebudayaan khusus
kelas social
Didalam masyarakat akan ditemui lapisan sosisal, dengan
demikian kita mengenal lapisan sosial rendah, menengah, dan keatas. Himpunan
orang-orang yang merasa dirinya tergolong pada lapisan kelas sosial tertentu
dinamakan kelas social. Masing-masing kelas memiliki perbedaan dari cara
berpakaian, etika dalam bergaul, cara mengisi waktu luang, bahasa yang
digunakan, dan lain sebagainya.
4. Kebudayaan khusus atas
dasar agama
Perbedaan mazhab pada agama dapat melahirkan kepribadian
yang berbeda pada umatnya. Karena setiap masyarakat yang fanatik dengan
kenyakinannya masing-masing akan cenderung untuk mengabaikan hal-hal yang
mungkin lebih benar.
5. Kebudayaan berdasarkan
profesip
Perbedaan profesi dapat member pengaruh pada kepribadian
seseorang berdasarkan pada suasana kekeluargaan dan cara-cara mereka bergaul.
Perilaku demikan lebih di mengerti oleh teman satu pekerjaan.
Seperti orang-orang dengan didikan militer lebih erat dengan
tugas-tugasnya, keluarganya sudah siap untuk pindah sewaktu-waktu ataupun untuk
ditinggalkan dalam waktu yang lama.
Dari beberapa kenyataan di atas dapat diambil kesimpulan
betapa besar pengaruh budaya pada pembentukan kepribadian, tetapi tidak hanya kebudayaan
melainkan juga organisme biologis seseorang, lingkungan alam, dan sosialnya.
Inti kebudayaan setiap masyarakat adalah sistem nilai yang
dianutnya, sistem tersebut mencakup konsepsi abstrak tentang apa yang dianggap
baik dan yang dianggap buruk. Dengan demikian dapat dibedakan antara nilai
positif dan negatf. Karena sistem nilai tersebut bersifat abstrak maka perlu di
ketengahkan beberapa indikator, yaitu:
1. Konsepsi hakikat hidup
2. Konsepsi hakikat karya
3. Konsepsi hakikat waktu
4. Konsepsi hakikat
lingkungan alam
5. Konsepsi hakikat
lingkungan sosial
Ada kemungkinan nilai-nilai tersebut belaku sekaligus di
dalam lingkungan hidup tertentu, yang senantiasa dihubungakan dengan konteks
kehidupan tertentu.[5]
F. Masalah/Problematika
Kebudayaan
Kebudayaan yang diciptakan manusia dalam kelompok dan
wilayah yang berbeda-beda menghasilkan keragaman kebudayaan. Tiap persekutuan hidup
manusia (masyarakat, suku, atau bangsa) memiliki kebudayaan sendiri yang
berbeda dengan kebudayaan kelompok lain. Kebudayaan yang dimiliki sekelompok
manusia membentuk ciri dan menjadi pembeda dengan kelompok lain. Dengan
demikian, kebudayaan merupakan identitas dari persekutuan hidup manusia.
Dalam rangka memenuhi hidupnya manusia akan berinteraksi
dengan manusia lain, masyarakat berhubungan dengan masyarakat lain, demikian
pula terjadi hubungan antar persekutuan hidup manusia dari waktu ke waktu dan terus
berlangsung sepanjang kehidupan manusia. Kebudayaan yang ada ikut pula
mengalami dinamika seiring dengan dinamika pergaulan hidup manusia sebagai
pemilik kebudayaan.
Berkaitan dengan hal tersebut kita mengenal adanya pewarisan
kebudayaan, perubahan kebudayaan, dan penyebaran kebudayaan. Bahwa dalam
rangka pemenuhan hidupnya manusia akan berinteraksi dengan sesama, masyarakat
dengan masyarakat lain yang terjadi antar persekutuan hidup manusia sepanjang
hidup manusia. Berkaitan dengan hal tersebut kita mengenal adanya tentang
kebudayaan yaitu:
1. Pewaris kebudayaan
Pewarisan kebudayaan adalah proses pemindahan, penerusan,
pemilikan, dan pemakaian kebudayaan dari generasi ke generasi secara
berkesinambungan. Pewarisan budaya bersifat vertical artinya budaya diwariskan
dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya untuk digunakan, dan
selanjutnya diteruskan kepada generasi yang akan datang.
Pewarisan kebudayaan dapat dilakukan melalui sosialisasi,
ekulturasi, atau pembudayaan adalah proses mempelajari dan menyesuaikan pikiran
dan sikap individu dengan sistem norma, adat, dan peraturan hidup dalam
kebudayaan. Proses ekulturasi di mulai sejak dini, yaitu masa kanak-kanak,
bermulai dari lingkungan keluarga, teman-teman sepermainan, dan masyarakat luas.
Sosialisasi atau proses pemasyarakatan adalah individu menyesuaikan diri dengan
individu lain dalam masyarakatnya.
Dalam hal pewarisan budaya bisa muncul masalah antara lain
sesuai atau tidaknya budaya barisan tersebut dengan dinamika masyarakat saat sekarang,
penolakan generasi penerima terhadap warisan budaya tersebut, dan munculnya
budaya baru yang tidak lagi sesuai dengan budaya warisan.
Dalam suatu khusus, ditemukan generasi muda menolak budaya
yang hendak diwariskan oleh generasi pendahulunya. Budaya itu dianggap tidak
lagi sesuai dengan kepentingan hidup generasi tersebut, bahkan dianggap
bertolak belakang dengan nilai-nilai budaya baru yang diterima sekarang ini.
2. Perubahan kebudayaan
Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi sebagai
akibat adanya katidak- sesuaian di antara unsur-unsur budaya yang saling
berbeda sehingga terjadi keadaan yang fungsinya tidak serasi bagi kehidupan.
Perubahan kebudayaan mencakup banyak aspek, baik bentuk, sifat perubahan,
dampak perubahan, dan mekanisme yang dilaluinya. Perubahan kebudayaan di
dalamnya mencakup perkembangan kebudayaan. Pembangunan dan modernisasi termasuk
pula perubahan kebudayaan.
Perubahan kebudayaan yang terjadi bisa memunculkan masalah,
antara lain perubahan akan merugikan manusia jika perubahan itu
bersifat regres (kemunduran) bukan progres (kemajuan).
Perubahan bisa berdampak buruk atau menjadi bencana jika dilakukan melalui
revolusi, berlangsung cepat, dan diluar kendali manusia.
3. Penyebaran kebudayaan
Penyebaran kebudayaan atau difusi adalah proses penyebaran
unsur-unsur kebudayaan dari suatu kelompok ke kelompok lain atau suatu
masyarakat ke masyarakat lain. Kebudayaan kelompok masyarakat di suatu wilayah
bisa menyebar ke masyarakat wilayah lain. Misalnya, kebudayaan dari masyarakat
barat masuk dan mempengaruhi kebudayaan timur. Globalisasi budaya bisa
dikatakan pula sebagai penyebaran suatu kebudayaan secara meluas.
Dalam hal penyebaran kebudayaan, seorang sejarawan Arnold J.
Toynbee merumuskan beberapa dalil tentang radiasi budaya sebagai berikut.
1. Aspek atau unsur
budaya selalu masuk tidak secara keseluruhan, melainkan individual. Kebudayaan
barat yang masuk ke dunia timur pada abad ke-19 tidak masuk secara keseluruhan.
Dunia timur tidak mengambil budaya barat secara keseluruhan, tetapi unsur
tertentu, yaitu teknologi. Teknologi merupakan unsur yang paling mudah di
serap. Industrialisasi di Negara-negar timur merupakan pengaruh dari kebudayaan
barat.
2. Kekuatan menermbus
suatu buda bebanding terbalik dengan nilainya. Makin tinggi dan dalam aspek
budayanya, makin sulit untuk diterima. Contoh religi adalah lapis dalam dari
budaya. Religi orang barat (Kristen) sulit di terima oleh orang timur dibanding
teknologinya. Alasannya, religi merupakan lapisan budaya yang paling dalam dan
tinggi, sedangkan teknologi merupakan lapis luar dari budaya.
3. Jika satu unsure
budaya masuk maka akan menarik unsure budaya lain. Unsure teknologi asing yang
diadopsi akan membawa masuk pula nilai budaya asing melalui orang-orang asing
yang bekerja di industri teknologi tersebut.
4. Aspek atau unsur
budaya yang ditanah asalnya tidak berbahaya, bisa menjadi berbahaya bagi
masyarakat yang di datangi. Dalam hal ini, Toynbee memberikan contoh
nasionalisme. Nasionalisme sebagai hasil evolusi sosial budaya yang menjadi
sebab tumbuhnya Negara-negara nasional di Eropa abad ke-19 justru memecah belah
system kenegaraan di dunia Timur, seperti kesultanan dan kekhalifahan di Timur
tengah.
Penyebaran kebudayaan bisa menimbulkan masalah. Masyarakat
penerima akan kehilangan nilai-nilai budaya local sebagai akibat kuatnya budaya
asing yang masuk. Contoh globalisasi budaya yang bersumber dari kebudayaan
Barat pada era sekarang ini adalah masuknya nilai-nilai budaya global yang
dapat memberi dampak negatif bagi perilaku sebagian masyarakat Indonesia.
Misalnya, pola hidup konsumtif, pragmatis, dan individualistic. Akibatnya,
nilai budaya bangsa seperti rasa kebersamaan dan kekeluargaan lambat laun bisa
hilang dari masyarakat Indonesia.
Pada dasarnya, difusi merupakan bentuk kontak antar
kebudayaan. Selain difusi, kontak kebudayaan dapat pula berupa akulturasi dan
asimilasi. Akulturasi berarti pertemuan antara dua kebudayaan atau lebih yang
berbeda. Akulturasi merupakan kontak antar kebudayaan, namun masing-masing
memperlihatkan unsur-unsur budayanya. Asimilasi berarti peleburan antar
kebudayaan yang bertemu. Asimilasi terjadi karna proses yang berlangsung lama
dan intensif antara mereka yang berlainan latar belakang ras, suku, bangsa, dan
kebudayaan. Pada umumnya, asimilasi menghasilkan kebudayaan baru.
Beberapa Problematika Antara lain:
1. Hambatan budaya yang
berkaitan dengan pandangan hidup dan sitem kepercayaan. Keterkaitan orang jawa
terhadap tanah yang mereka tempati secara turun-temurun di yakini sebagai
pemberi berkah kehidupan. Mereka enggan meninggalakan kampung halamannya atau
beralih pola hidup sebagai petani, padahal hidup mereka umumnya miskin.
2. Hambatan budaya
berkaitan dengan perbedaan persepsi atau sudut pandang. Hambatan budaya yang
berkaitan dengan perbedaan persepsi atau sudut pandang ini dapat terjadi antara
masyarakat dan pelaksanaan pembangunan. Contonhnya: Program keluarga KB semula
di tolak masyarakat, mereka beranggapan banyak anak banyak rezeki.
3. Hambatan budaya yang
berkaitan dengan faktor psikologis atau kejiwaan. Upaya untuk
mentransmigrasikan penduduk dari daerah yang terkena bencana alam banyak
mengalami kesulitan. Hal ini di sebabkan karena adanya kekhawatiran penduduk
bahwa di tempat yang baru hidup mereka lebih sengsara di bandingkan dengan
hidup mereka di tempat yang lama.
4. Masyrakat yang
tersaing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luas. Masyarakat daerah-daerah
terpencil yang kurang komunikasi dengan masyarakat luas, karena pengetahuan
serba terbatas, seolah-olah tertutup untuk menerima program pembangunan.
Problematika Kebudayaan Indonesia
Menelusuri pergulatan kebudayaan di Indonesia, akan
ditemukan sebuah fenomena yang lazim dihadapi yaitu, kerendahdirian masyarakat
Indonesia terhadap kebudayaannya sendiri. Kerendahdirian ini muncul dari
hubungan antara kebudayaan Barat dengan kebudayaan daerah di Indonesia, Barat
yang sering diposisikan sebagai pihak superior dan kebudayaan daerah di
Indonesia sebagai pihak inferior.
Rendah diri ini disebabkan oleh penjajahan, kerusakan
perilaku masyarakat Indonesia, dan pencitraan yang kuat dari media tentang
keunggulan kebudayaan Barat. Namun, dari beberapa sebab tersebut, yang terus
terjadi hingga saat ini dan yang paling mendasar adalah pencitraan. Dikatakan
mendasar karena pada saat penjajahan pun sudah terjadi pencitraan tersebut
Ungkapan khusus seperti, ilmiah, keren, funky, dan gaul
adalah ungkapan yang menujukkan kondisi rendah diri. Ungkapan-ungkapan tersebut
seringkali dilekatkan kepada kebudayaan Barat, sedangkan kebudayaan daerah di
Indonesia, sepertinya jauh dari ungkapan-ungkapan tersebut. Hal ini memang
tidak sepenuhnya bermasalah, karena Barat memang memiliki keunggulan dalam
bidang-bidang tertentu, seperti sains. Namun, penilaian kebudayaan Barat lebih
superior dan kemudian fenomena masyarakat Indonesia meninggalkan kebudayaan
yang sudah lama dihidupi, tentu menjadi suatu masalah.
Kebudayaan daerah di Indonesia ditingglakan hanya karena
dicitrakan tidak ilmiah, keren dan sebagainya. Padahal, mulai disadari bahwa
kebudayaan daerah di Indonesia memiliki keunggulan, mulai dari pandangan
tentang alam hingga pranata sosial. Dan juga masyarakat Barat mulai menyadari
kekurangan kebudayaan mereka sendiri yang terlihat lewat gairah dan ketertarikan
kebudayaan Timur sebagai penawar kegelisahan mereka.
Secara singkat dapat dikatakan permasalahan ini muncul
karena pencitraan dan harus juga diselesaikan dengan pencitraan. Sudah saatnya
kita melihat bahwa kebudayaan Indonesia memiliki kesejajaran dengan kebudayaan
Barat, hanya saja kebudayaan Indonesia kurang dicitrakan dan kurang dikenali
oleh sebagian masyarakat Indonesia yang hidup mulai masa 70-an. Tentu, usaha
untuk mengenali kebudayaan Indonesia adalah tugas yang diemban oleh setiap
warga negara Indonesia.
Pengenalan ini merupakan salah satu modal untuk memiliki dan
mengembangkan kebudayaan Indonesia. Minimnya pengenalan ini, merupakan salah
satu faktor yang membuat rendahnya rasa kepemilikan dan keinginan untuk
mengembangkan kebudayaan. Mengembangkan kebudayaan, adalah hal yang harus
dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Jangan tinggalkan kebudayaan Indonesia
karena kekayaannya menunggu untuk dikenali, dikembangkan, hingga akhirnya dapat
hidup mencapai kebesarannya, yang dulu pernah dimiliki.
BAB III
PENUTUP
Berdasrkan hasil pemaparan diatas dapat kita simpulkan bahwa
setiap manusia memiliki kebudayaan yang melekat pada diri mereka yang kita
tentu harus hargai karena setiap perbedaan itulah yang menghasilkan keragaman.
Dan dari pemaparan itu jugalah kita dapat mengetahui makna dan isi dari
masyarakat yang menjalani kehidupan sehari-hari dengan budaya.
Masyarakat adalah manusia yang hidup bersama di suatu
wilayah tertentu dalam waktu yang cukup lama yang saling berhubungan dan
berinteraksi dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan
yang sama. Sedangkan interaksi sosial adalah interaksi sosial adalah suatu
hubungan antar sesama manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain baik itu
dalam hubungan antar individu, antar kelompok maupun atar individu dan
kelompok.
Dan perubahan sosial adalah interaksi sosial adalah suatu
hubungan antar sesama manusia yang saling mempengaruhi satu sama lain baik itu
dalam hubungan antar individu, antar kelompok maupun atar individu dan
kelompok. Jadi, didalam sebuah masyarakat terdapat interaksi sosial yang
membuat mereka terhubung antara satu dengan yang lainya dan masyarakat dapat
berubah sesuai dengan faktor-faktor lingkungan.
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang
menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau
referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Penulis banyak
berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan saran yang
membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di
kesempatan–kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada
khususnya juga para pembaca pada umumnya.
Langganan:
Postingan (Atom)



